Beranda

“HALO” Taman Nasional Tanjung Puting !

Klotok yang Sedang Bersandar. [Doc: Pribadi]

Mungkin banyak orang yang belum kenal Tanjung Puting. Inilah taman nasional di Kalimantan sana, yang indah, liar dan habitatnya orangutan!

Tanjung Puting National Park (TPNP), mungkin terdengar sangat asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Pada awalnya, saya juga belum tahu apa itu Tanjung Puting, di mana letaknya, asal usulnya, dan jenis wisata apa yang ditawarkan di sana. Saya pun lalu mencari tahu tentang Tanjung Puting tersebut.

Ternyata di website Pegipegi sudah ada beberapa ulasan serta tips menarik yang sangat bermanfaat serta merayu-rayu saya untuk berkunjung ke Tanjung Puting. Saya pun lalu tergoda untuk menyambanginya.

Taman Nasional Tanjung Puting ini terletak di Pulau Borneo, tepatnya di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Untuk mencapai ke sana, kita harus naik pesawat kemudian turun di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun. Tempat Wisata yang satu ini terkenal akan konservasi orangutan terbesar di dunia. Iya. Di dunia!

Awal mula kenapa saya bisa melakukan perjalan ke Tanjung Puting ini adalah karena adanya ajakan untuk jalan-jalan ke daerah Kalimantan dari salah seorang teman kerja yang kebetulan memang orang Kalimantan. Setelah sedikit bertanya-tanya kepada Mbak Ajeng (teman saya), mengenai itinerary, budget, dan sebagainya, saya sempat berniat ingin mengundurkan diri dan memilih pergi ke Malaysia atau Singapura saja yang notabene biayanya lebih murah.

Yah, meskipun cuma foto-foto saja sih di sana. Namun saya berpikir kembali, dengan harga yang dibayarkan, menurut saya Wisata Indonesia masih yang nomor satu dan cukup masuk akal dengan apa yang akan kita dapatkan. Semua hal bisa kita temukan di negeri ini. Mulai dari wisata alam, wisata kuliner, pegunungan, pantai. Sebutkan saja semuanya, kita punya.

Tapi rasanya sayang betul kalau jalan-jalan hanya untuk foto-foto saja. Lebih dari itu semua, yang paling penting adalah pelajaran apa yang bisa dipetik dari perjalanan yang kita buat. Seberapa banyak hal yang dapat dipahami dari sebuah perjalanan. Dan nilai apa yang terkandung di dalamnya.

Untuk budget tiket pesawat saat itu, saya habis sekitar 1,4 juta rupiah untuk pulang-pergi dengan menaiki maskapai Nam Air. Dari website Pegipegi, kita dapat mencari penerbangan berdasarkan filter tarif mulai dari yang paling murah sampai yang paling mahal atau berdasarkan waktu keberangkatan, dari pagi hingga ke penerbangan malam hari.

Namun tentu saja akan lebih enak jika kita menggunakan aplikasi Pegipegi, karena di sana ada banyak sekali promo untuk pembelian tiket penerbangan serta penginapan yang sangat berguna sekali untuk menekan pengeluaran liburan kita.

Kemudian saya harus mengeluarkan sekitar 1,4 juta rupiah lagi untuk biaya hidup selama di sana yang sudah termasuk biaya untuk guide, transportasi dari bandara Pangkalan Bun ke Dermaga Kumai, sewa kapal, dan makan 3 kali sehari disertai 2 kali ngemil sehari. Loh kenapa tidak ada biaya penginapan? Nah, ternyata di sana tidurnya juga di kapal. Di atas sungai, di tengah hutan. Ajib kan?

Perjalanan dimulai, Bandara Soekarno Hatta menjadi titik temu kita. Total terdapat 6 orang yang turut serta meramaikan perjalanan ini. Perjalan menuju Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, ditempuh dalam waktu sekitar 75 menit. Sesampainya di sana, saya agak kaget karena bandaranya ternyata kecil seperti terminal bus.

Kemudian kita disambut oleh guide yang telah lama menggeluti profesi menjadi pemandu wisata di Tanjung Puting selama kurang lebih 20 tahun. Beliau bernama Pak Andreas, biasa dipanggil Pak Aan. Sekadar informasi saja, Pak Aan beserta crew kapalnya justru lebih biasa melayani tamu dari luar negeri ketimbang dalam negeri.

Beliau mengatakan kalau pengunjung Tanjung Puting kebanyakan datang dari luar negeri, sekitar 90%. Ternyata benar, pada hari itu hanya kapal kita saja yang isinya orang lokal. Mungkin para bule itu pun menyangka kita datang dari Myanmar atau Thailand.

Dari Dermaga Kumai, kami menuju muara sungai sekonyer yang merupakan gerbang ke Taman Nasional Tanjung Puting. Perjalanan dari dermaga Kumai ke muara Sungai Sekonyer ditempuh sekitar 30 menit.

Di sepanjang Sungai Sekonyer kita dapat melihat monyet-monyet yang bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya. Tanjung Puting tak hanya melulu tentang orangutan karena di tempat ini kita juga bisa menemukan spesies binatang atau tumbuhan langka lain, seperti monyet daun merah (Pesbytis Rubicunda), Babi Hutan (Sus Scrofa), Kantong Semar (Nepenthes), dan bekantan (Nasalis Larvatus).

Pemberhentian pertama adalah Tanjung Harapan. Nah, di sini ada pusat informasi tentang orangutan, tapi menurut saya kondisinya agak kurang terurus. Gelap, dan sedikit kotor. Mungkin orang-orang berpikir kalau sekedar informasi orangutan saja sih di internet juga banyak, makanya di sana sepi. Kebanyakan pengunjung langsung menuju ke tempat feeding orangutan.

Selama perjalanan ke panggung pertunjukan, Pak Aan bercerita mengenai banyak hal tentang orangutan berikut cerita-cerita yang pernah terjadi selama ia berada di Tanjung Puting, mulai dari orangutan yang menyukai sesama jenis, orangutan yang patah hati karena pasangannya mati lalu stress tidak mau makan, orangutan yang pernah hampir memperkosa perempuan, proses bagaimana seekor orangutan jantan bisa menjadi raja, hingga orangutan yang dipekerjakan di tempat prostitusi. Cerita yang seperti itu tak akan kita dapatkan di internet.

Beruntung, saat kami mendatangi panggung pemberian makan ini, ada orangutan yang datang naik ke atas panggung dan memakan makanan yang diberikan oleh Ranger. Ranger di sini maksudnya petugas yang memberi makan.

Waktu menginjak sore hari waktu indonesia bagian barat. Pada sore hari, menurut guide kita, merupakan waktu yang tepat untuk melihat kawanan bekantan dari pinggir sungai dikarenakan ketika menginjak sore hari mereka ingin pergi tidur. Kalau siang hari mereka sibuk mencari makan ke dalam hutan.

Setelah puas melihat Bekantan, menjelang malam hari, kapal kami menuju ke spot di mana kunang-kunang banyak bernaung. Makan malam dihiasi kerlip kunang-kunang dan hanya dengan cahaya lilin ini sungguh romantis sekali. Saking banyaknya kunang-kunang yang berada di pohon, pohonnya terlihat seperti pohon natal. Kerlap-kerlip begitu indah bertautan dengan bintang-bintang.

Di malam pertama ini. Dihiasi cahaya bintang. Di dalam rimba yang tenang. Angin pun membelai sayang. Dibuai kedamaian sempurna. Di tepi sungai suara. Ku rangkai puji bagi sang pencipta.

Bagaimana ? Siap menjelajahi Tanjung Puting dan bercengkerama dengan alam? Buruan atur perjalanan kamu sekarang juga!

#Pegipegiyuk #JelajahiIndonesiamu #tntanjungputingsptn2



Tersesat di Taman Nasional Tanjung Puting, Dua Turis asal Prancis Selamat

tersesat-di-taman-nasional-tanjung-puting-dua-turis-asal-prancis-selamat-ZUR.jpg
Tim pencari menemukan dua turis asal Prancis dan pemandu yang tersesat di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) Kalimantan Tengah dalam keadaan selamat. FOTO/IST

KOTAWARINGIN BARAT – Dua turis asal Prancis dan satu pemandu yang tersesat di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, akhirnya ditemukan selamat, Selasa (11/9/2018) siang. Ketiganya dilaporkan hilang sejak Senin (10/9/2018) pukul 18.00 WIB.

Wisatawan asal Prancis tersebut bernama Alban Dudek (38) dan Jean Luc Dudek (57). Sedangkan pemandu asal Pangkalan Bun bernama Aldy. “Upaya pencarian sudah dilakukan sejak Senin (10/9/2018) malam dan ketiganya ditemukan hari ini pukul 11.45 WIB dalam kondisi sehat, hanya luka lecet/goresan kayu dan ranting,” kata Kapolsek Kumai AKP Agus Priyo Wibowo melalui pesa WhatsApp, Selasa (11/9/2018) sore.

Tim pencarian melibatkan pihak TNTP, Polri, Basarnas, perkumpulan guide dan masyarakat sekitar. “Awalnya dua turis itu bersama guide tracking sejak Senin sore, namun tidak kembali ke campnya di Pondok Tanggui Camp. Mereka habis menyaksikan pemberian makan orang utan (feeding), saat kembali mereka diduga tidak melalui jalan yang biasa ditempuh sehingga mereka tersesat,” ujar Agus.

Rekan-rekan guide yang mengetahui informasi tesebut langsung melapor ke petugas TNTP dan meneruskan ke pihak kepolisian. “Dari Senin (10/9/2018) malam sudah dilakukan pencarian, namun saat itu cuaca tidak mendukung akibat diguyur hujan deras dan pencarian dihentikan sementara,” katanya.



Jejak Pembantaian Sadis Orangutan di Kanal Kebun Sawit Seruyan Kalteng

1

Pihak berwenang masih mengusut kasus pembantaian orangutan (Pongo pygmaeus) di perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

Sebelumnya Baen, orangutan jantan hasil translokasi Orangutan Foundation International (OFI) empat tahun lalu (24 September 2014), ditemukan tewas mengenaskan. Jasad orangutan itu terendam di air dengan sejumlah luka sayatan dan tujuh peluru bersarang di tubuhnya.

Field Director OFI, Fajar Dewanto membeberkan kronologi penemuan jasad orangutan berumur 20 tahun tersebut. Awalnya, Minggu, 1 Juli 2018, ia mendapatkan laporan dari Dody Kurniawan, petugas Resor Telaga Pulang, STPN I Balai Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).

Dody sebelumnya menerima informasi dari karyawan perkebunan kelapa sawit PT Wana Sawit Subur Lestari (WSSL) II mengenai adanya temuan bangkai orangutan yang mengambang dan membusuk di kanal air. Lokasi tepatnya di Blok Q45 Elang Estate, Kebun 5 Afdeling 19 PT WSSL di Desa Tanjung Hanau, Kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan.

“Setelah mendapatkan laporan itu kami langsung mengirimkan tim dari Pangkalan Bun untuk melakukan pengecekan,” ucap Fajar saat dihubungi, Rabu, 4 Juli 2018.

Setelah dipastikan kebenarannya, OFI melaporkan penemuan jasad orangutan tersebut kepada Agung Widodo, Kepala SKW II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng. Agung kemudian menurunkan tim bersama kepolisian setempat.

Ada 7 Peluru dan Luka Sayatan Pisau

 

2Berdasarkan hasil identifikasi, ada tujuh peluru bersarang di tubuh orangutan yang malang tersebut. Rincinya, menurut Fajar, dua peluru di pinggang kiri, satu peluru di jari tengah kaki kiri, dua peluru di kepala, dan dua peluru di lengan kanan.

Selain peluru, kematian orangutan juga akibat benda tajam. Misalnya, jempol tangan hilang, luka sayat di sejumlah badan. “Termasuk kaki dan adanya bekas ikatan di pergelangan kaki,” ungkapnya.

Saat ditemukan, bangkai orangutan itu berada di areal land clearing baru yang tengah digarap dengan menggunakan dua ekskavator.

Untuk penanganan lebih lanjut, saat ini tim dari Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH) sedang menyelidiki penyebab kematian orangutan itu.

Adapun Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng Adib Gunawan menjelaskan, saat ini BKSDA berkoordinasi dengan aparat kepolisian setempat, yakni Polres Seruyan untuk memastikan penyebab kematian orangutan itu.

Nekropsi (autopsi bangkai hewan) pun sudah dilakukan. “Kita nanti tunggu hasilnya dari kepolisian,” ujarnya.

“Penyebab kematian Baen ini kemungkinan akibat tindak kekerasan yang dilakukan sekitar dua minggu lalu,” imbuhnya.

Menurut Adib, kasus pembantaian orangutan ini sudah serig terjadi. BKSDA Kalteng pun terus menggelar sosialisasi, baik kepada perusahaan ataupun masyarakat.

“Kita tetap melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembunuhan kepada primata yang dilindungi undang-undang ini,” ujarnya.

Kasus serupa pernah terjadi di awal tahun, tepatnya 15 Januari 2018. Ketika itu, dua warga Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan, Kalteng, dengan sadis menghabisi nyawa orangutan dengan 16 peluru senapan angin dan membacoknya.

Tubuh primata yang dilindungi itu kemudian ditemukan mengapung di Sungai Barito, Kabupaten Barito Selatan.

WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai